statistika sebagai sarana berpikir ilmiah (filsafat ilmu bag 4)

April072013

Statistika

Pada sekitar tahun 1645 seorang ahli matematika Prancis Blaise Pascal (1623-1662) dan Pierre De Fermat (1601-1665) mengembangkan cikal bakal teori peluang. Kemudian pada tahun 1763 pendeta Thomas Bayes mengembangkan teori peluang subyektif berdasarkan kepercayaan seseorang akan terjadinya suatu kejadian. Teori ini berkembang menjadi cabang khusus dalam statistika sebagai pelengkap teori peluang yang bersifat obyektif. Teori peluang inilah yang merupakan dasar dari statistika.

Konsep statistika sering dikaitkan dengan distribusi variable yang ditelaah dalam suatu populasi tertentu. beberapa konsep teori dalam statistika diantaranya:

a.       Teori galat atau kekeliruan oleh Abraham Demoivre (1667-1754).

b.      Terdapat suatu distribusi yang berlanjut dari satu variabel dalam suatu frekuensi yang cukup banyak pada tahun 1757 oleh Thomas Simpson.

c.       Konsep distribusi normal oleh Pierre Simon de Laplace(1749-1827).

d.      Distribusi yang tidak berupa kurva normal oleh Francis Galton (1822-1911) dan Karl Pearson 1857-1936).

e.       Teknik kuadrat terkecil, simpangan baku, dan galat baku untuk rata-rata oleh Karl Friedrich Gauss (1977-1855).

f.       Konsep regresi, korelasi, distribusi chi-kuadrat dan analisis statistika untuk data kualitatif oleh Pearson.

g.      Konsep pengambilan contoh oleh William Searly Gosset.

h.      Disain eksperimen, analisis varians dan kovarians, distribusi-z, distribusi-t, uji signifikan dan teori tentang perkiraan oleh Ronald Alylmer Fisher (1890-1962)

                   

1.      Statistika dan Cara Berpikir Induktif

Ilmu adalah pengetahuan yang telah teruji kebenarannya. Semua pernyataan ilmiah bersifat faktual, dimana konsekuensinya dapat diuji secara empiris. Pengujian mengharuskan kita untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual yang biasa disebut penarikan kesimpulan induktif.

Penarikan kesimpulan induktif pada hakikatnya berbeda dengan deduktif. Kesimpulan yang ditarik dalam penalaran deduktif adalah benar apabila premis-premisnya benar dan prosedurnya sah. Sedangkan dalam penalaran induktif meskipun premisnya benar dan prosedurnya sah, kesimpulannya belum tentu benar, tetapi memiliki peluang (kemungkinan) benar. Statistikalah yang memungkinkan kita menghitung tingkat peluang tersebut dengan eksak.

Statistika meminimalkan rumitnya penarikan kesimpulan secara induktif. Misalnya untuk mengetahui berapa rata-rata tinggi anak umur 10 tahun di Indonesia maka untuk menarik kesimpulan secara induktif harus mengukur tinggi badan seluruh anak umur 10 tahun di Indonesia. Statistika memberikan jalan yang lebih mudah agar menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan cara mengamati sampel (sebagian populasi) saja, yakni sebagian anak umur 10 tahun di Indonesia.

Statistika secara kuantitatif memberikan tingkat ketelitian kesimpulan yang ditarik dengan asas yang sederhana. Semakin besar contoh yang diamati maka tingkat ketelitiannya semakin tinggi, dan sebaliknya. Oleh karena itu kita dapat memilih tingkat ketelitian yang dibutuhkan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi.

Statistika juga dapat menunjukkan hubungan kausalita antara dua faktor, apakah bersifat kebetulan atau benar-benar terkait. Penarikan kesimpulan secara induktif bisa saja keliru karena pengamatan panca indera atau alat mungkin saja salah. Secara hakiki statistika mempunyai kedudukan yang sama dalam penalaran induktif sebagaimana matematika dalam penalaran deduktif.

 

2.      Karakteristik Berpikir Induktif

Kesimpulan yang ditarik secara induktif bersifat mungkin, bisa benar atau salah.kesimpulan yang ditarik adalah pengetahuan mengenai tingkat peluangnya. Penalaran itu dilakukan melalui statistika. Statistika merupakan disiplin sendiri. Menurut bidang pengkajiannya statistika dibedakan pada pengetahuan yang mengkaji dasar-dasar teorinya dimulai dari teori penarikan contoh, distribusi, penaksiran, dan peluang, yang disebut statistika teoritis, dan penggunaan statistika teoritis yang disesuaikan dengan bidang tempat penerapannya, yang disebut statistika terapan.

Statistika merupakan sarana berpikir yang diperlukan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Statistika juga membantu menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti bukan terjadi secara kebetulan.[1]

 



[1] Diresume dari karya Jujun. S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Poluler, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2005), h. 165-225

Share on Facebook Share on Twitter

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images


 
Back to Top